Wednesday 17th October 2018
    banner 728x90

    Memaklumi adalah Kesejatian Spiritual

    By: On:

    Ana al-Haqq” (Akulah Sang Kebenaran), Kata-kata ini mengguncang dan menggetarkan nurani jagat raya manusia. Ucapan itu bagai halilintar menggelegar yang menghantam dan meluluhlantakkan bumi manusia. Sahl at-Tustari, Syaikh Junaid dan Syibli, para guru sekaligus sahabat-sahabatnya, terpana dan shock berat. Oh, Hallaj, seharusnya kau tak sebarkan rahasia Tuhan itu kepada publik semacam itu. Mereka tak paham. Biarlah kata-kata itu menjadi milik hati kita saja?

    Para penguasa pengetahuan keagamaan eksoterik, literal, konservatif dan ortodoks: para ahli fiqh dari segala aliran, para ahli hadits, dan para teolog, meradang dan marah luar biasa. Demonstrasi besar-besaran berlangsung di mana-mana, di seluruh negeri. Puluhan otoritas agama eksoterik itu menghimpun tandatangan dan berebut membubuhkannya, menuntut kematiannya. Mereka mengeluarkan fatwa: “Bu*uh dia, dar*hnya halal ditumpahkan.”

    Tatkala tiba hari Mansur Al-Hallaj akan dipenggal, Beliau menyuarakan do’a pada Allah,
    Wahai Tuhan, mereka semua yang sedang berkumpul di sini adalah hamba-hambamu yang mencoba membunuhku demi kefanatikannya terhadap agama-Mu, dan juga dengan alasan untuk mendekatkan diri mereka kepada-Mu. Oleh karenanya, ampunilah mereka semua. Seandainya Kau singkapkan pengetahuan kepada mereka sebagaimana yang Kau anugerahkan padaku, niscaya mereka tidak akan bertindak sebagaimana yang dilakukannya padaku ini“.

    Demikian sebuah bentuk permakluman atas dasar cinta kasih sayang yang ditunjukkan Al-Hallaj atas eksekusi dirinya yang dilakukan [juga] atas nama Tuhan.

    Memaklumi adalah Kesejatian Spiritual

    Mursyid/Guru Kita Abang Bulganon Amir, seringkali menyampaikan dan mengingatkan kepada kita sekalian, bahwa tingkatan kemuliaan adalah pada cara memahami dan memaklumi segala perilaku makhluk. “Kita tidak bisa mengharapkan orang lain memahami dan memaklumi kita, tapi kita harus selalu bisa memahami dan memberi permakluman atas apa yang dipikirkan dan dilakukan oleh orang lain atas ketidakmengertian dan keterbatasan mereka”.

    Atas segala fenomena itu, yang hadir dalam diri kita adalah sebuah bentuk kesyukuran atas keberuntungan terbukanya hijab dan cara pandang kita atas segala fenomena hidup dan kehidupan. JIka kita mengevaluasi seluruh perjalan diri kita, maka kita akan menemukan: betapa dulu kita sering menganiaya diri kita sendiri. Betapa kita mudah terjebak ke dalam sebuah persoalan yang tak jelas juntrungannya. Ataupun begitu mudah kita terpedaya atas godaan keinginan akal pikir kita.

    Namun akhirnya tibalah saat dimana kita bisa melihat fenomena secara lebih jernih, mudah dan sederhana. Darimana asal muasal cara pandang itu jika bukan dari Zat Kuasa Allah (Ruuhi) dalam diri kita yang sudah dan sedang menyinari jiwa, qalb, hati dan pikiran (fuad) kita.

    “…barang siapa yang sungguh-sungguh datang kepada Kami, pasti kami akan tunjukkan jalan-jalan Kami… (QS: Al ankabut: 69)

     

    andi miswar | palu, 30 juni 2018

    Subscribe

    Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

    No Responses

    Leave a Reply