Monday 24th September 2018
    banner 728x90

    Fenomena spiritualis masyarakat perkotaan

    By: On:

    (Studi Analisis Tasawuf Modern)

    A. Pendahuluan

    Pada abad ke-19, 20, dan sampai awal abad 21 ini, terjadi gelombang kaum muslimin yang berusaha untuk membangkitkan kembali ajaran-ajaran dan praktik Islam autentik, bukan sekedar untuk menghadapi dominasi politik dan cultural Barat. Namun sebagai respon terhadap modernisasi yang telah lama di dengung-dengungkan oleh Barat. Modernitas di seantero dunia semenjak kemunculannya yang ditandai dengan renaissance sekitar abad ke 17 lalu, disamping memliki dampak positif namun juga terdapat dampak negatif. Sisi positifnya telah banyak diakui dan dinikmati oleh manusia seperti meningkat peasatnya sains dan teknologi.

    Kadang dalam menikmati semua itu, menjadikan manusia lupa akan jati diri yang sebenarnya, secara tidak sadar ia justru diperbudak oleh modernitas yang semakin melingkupi dan memenjarakan jiwanya. Dari sinilah kompleksitas gejala negatif bagi kemanusiaan dimulai. Secara kolektif manusia mengalami gejala keterasingan jiwa (alienasi), atau paling tidak keterbelahan jiwa. Dalam hal ini terciptanya sains dan teknologi industri memicu munculnya proses de-humanisasi secara akut. Problem tersebut tentunya sangat menggerus nilai-nilai kemanusiaan yang mana telah tertanam mulai sejak dahulu.

    Nilai-nilai yang diusung oleh modernitas ialah subjektivitas. Namun kata subjektivitas disini tentunya bukan merupakan kebalikan dari objektivitas. Makna dari subjektivitas disini ialah subjek yang berkesadaran, “aku” yang berpikir, “aku” yang berefleksi. Pandangan subjektivitas ini tentunya merupakan ciri khas dari era modern. Dimana fokus dari falsafahnya yakni antroposentris, ukuran dari kebenaran ialah manusia itu sendiri. Ini berbeda dengan era sebelumnya yakni era pertengahan bahwa tema sentralnya yakni teosentris.

    Di tengah gelombang arus ”modern”, tuntutan terhadap spiritualitas tampaknya mengalami perkembangan. Hal ini tercermin dari maraknya kajian terhadap spiritualisme. Spiritualisme tersebut dalam perkembangannya mengalami dinamisasi yang beragam, termasuk pada sisi implementasi ajaran. Kerinduan pada spiritualisme tampaknya melanda beberapa masyarakat yang terhitung terdidik secara modern

    Sebagaimana yang telah dijelaskan pada paragraf sebelumnya bahwa modernitas yang alih-alih untuk membebaskan manusia dari keterpurukan justru modernitas menimbulkan problem baru yakni salah satunya kekeringan spiritualitas. Masalah spiritualitas ini merupakan hal yang terpenting karena selama 400 tahu lebih modernitas berusaha untuk mengeliminasi dimensi spiritualitas dari kehidupan umat manusia. Sehingga saat ini manusia dalam kekeringan jiwanya oleh karena tidak bisa dipungkiri dalam realitas kehidupan sekarang banyak terjadi gelombang spiritualitas baik didunia Barat maupun di dunia Timur.

    Namun yang lebih umumnya gelombang spiritualitas itu terjadi pada masyarakat perkotaan, dimana masyarakat perkotaan merupakan sebuah hasil dari arus modernitas. Jika dibandingkan dengan masyarakat pedesaan dimana dalam sebuah masyarakat pedesaan masih tertanam nilai-nilai kearifan lokalnya yang kuat sehingga arus modernitas belum mampu mengalir di area pedesaan. Namun pada masyarakat perkotaan arus modernitas sangat deras dalam menggerus kehidupan masyarakatnya. Sehingga bisa dilihat bahwa masyarakat perkotaan sangat bersifat individualistis. Oleh karenanya gelombang spiritualitas masyarakat perkotaan bisa dikatakan hal yang lumrah mengingat masyarakat perkotaan mengalami kekeringan spiritual akibat arus modernitas.

    Dalam makalah ini penulis akan berusaha untuk mengulas gelombang spiritualitas masyarakat perkotaan dilihat dari prespektif tasawuf modern. Mengingat fenomena tersebut saat ini telah marak-maraknya terjadi dimana-mana. Merupakan hal sangat menarik untuk dikaji lebih lanjut dari gelombang spiritualitas masyarakat perkotaan, karena umumnya yang mengikuti acara-acara tersebut adalah orang dari golongan menengah keatas dimana mereka itu bisa dikatakan oarang-orang yang “sukses” dalam hal keduniawian.

    B. Latar Belakang Munculnya Spiritualitas Masyarakat Perkotaan

    Tidak dapat dipungkiri, zaman modern telah dimulai di dunia Barat, secara historis, zaman modern dimulai sejak adanya krisis abad pertengahan (abad ke-14 dan ke-15), yang ditandai dengan munculnya gerakan Renaissance. Renaissance berarti kelahiran kembali, yang mengacu pada gerakan keagamaan dan kemasyarakatan yang bermula di Italia (pertengahan abad ke-14).[1]

    Renaissance akan banyak memberikan segala aspek realitas. Perhatian yang sungguh-sungguh atas segala hal yang konkret dalam lingkup alam semesta, manusia, kehidupan masyarakat, dan sejarah. Pada masa itu pula terdapat upaya manusia untuk memberi tempat kepada akal yang mandiri. Akal diberi kepercayaan yang lebih besar karena adanya suatu keyakinan bahwa akal pasti akan dapat menerangkan segala macam persoalan.

    Asumsi yang digunakan, semakin besar kekuasaan akal dapat diharapkan lahir “dunia baru” yang penghuninya (manusia-manusia) dapat merasa puas atas dasar kepemimimpinan akal yang sehat dan mandiri. Inilah corak era modern yang hingga sekarang terus untuk menggerus kehidupan masyarakat.

    Proses modernisasi, yang dijalankan oleh dunia Barat sejak zaman renaissance, disamping membawa dampak positif, juga telah menimbulkan dampak negatif. Dampak positifnya, modernisasi telah membawa kemudahan-kemudahan dalam kehidupan manusia dengan adanya teknologisasi, sementara dampak negatifnya ialah modernisasi telah menimbulkan krisis hidup , kehampaan spiritual, dan tersingkirnya atau bergesernya peranan agama dalam kehidupan manusia.[2]

    Sebagaimana yang telah disinyalir oleh para sosiolog kontemporer bahwa arus globalisasi akan mengakibatkan dunia ini terbentuk dalam satu Global village (desa buana) yang mensyaratkan adanya desa-desa yang di”kotakan”. Diseluruh pelosok dunia akan menjadi kota atau metropolis dengan gebyar kemodernan yang dipoles wajah teknikalisasi dan berlanjut dengan urbanisasi serta industrialisasi.[3] Sementara definisi kota adalah suatu wilayah yang secara geografis didiami oleh lebih dari 10.000 orang ataun jumlahnya tidak ditentukan lagi tapisudah didukung oleh modernitas-industrialisasi. Karakter yang sesuai untu Indonesia ini terbatas pada kota-kota metropolitan seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, Yogyakarta.

    Adapun corak dasar masyarakat perkotaan secara sosiologis cenderung materialistik, individualistik, rasionalistik, formalistik sehingga sikap-sikap ini pun juga mempengaruhi cara keberagamaan orang perkotaan. Sehingga dari corak tersebut maka secara tidak langsung akan mempengaruhi cara keberagamaan masyarakat perkotaan. Ini bisa terjadi karena manusia akan selalu berdialektika terhadap lingkungan sekitarnya. Selain itu paradigma berfikir seseorang akan berpengaruh terhadap seluruh dimensi kehidupannya, baik sosial, budaya, maupun keberagamaannya.

    Cara keberagamaan “Masyarakat perkotaan” yang terpengaruh oleh modernisasi yakni: Pertama, Terjadi sekularisasi dalam kehidupan agama. yang dimaksud dengan sekularisasi ialah usaha untuk memisahkan antara otoritas duniawi dengan otoritas ukhrawi (agama) atau dengan kata lain memisahkan antara urusan dunai dengan urusan agama. secara sosiologis ini terbagi menjadi dua yakni ekstrem dan moderat. Sekulrisasi ekstrem ialah cara pandang hidup yang mencita-citakan otonomi nilai duniawi terlepas dari campur tangan Tuhan. Sementara yang sekularisasi moderat ialah pandangan hidup yang mencita-citakan nilai-nilai duniawi dengan mengikutsertakan Tuhan dan agama.

    Kedua, pemahaman keberagamaan masyarakat perkotaan mengalami pergeseran atau bahkan terjadi sebuah perubahan. Jika pada masyarakat pedesaan agama dipahami sebagai sumber moral, etika, dan norma hidup, namun pada masyarakat perkotaan motif tersebut menjadi teknologisasi-insdutrialisme. Atau dengan kata lain industrialisme dan tekhnologisasi menjadi “agama” baru bagi masyarakat perkotaan. Ini terlihat dari gaya hidup meraka yang sangat tergantung sekali dengan teknologi bahkan bisa dikatakan telah diperbudak oleh teknologi.

    Ketiga, dalam masyarakat perkotaan nilai-nilai transenden dan moralitas banyak diremehkan. Sehingga orang-orang moralis (agamawan) dalam setrata sosialnya bisa dikatakan di nomor duakan. Dulu memiliki kharisma dan status yang tinggi maka sekarang diduduki oleh kelas “the have”, baik status sosialnya maupun karena jabatan atau karena harta.

    Keempat, agama hanya sekadar sebagai alat instrumen kehidupan serta alat legitimasi dari apa yang diperbuat. Dalam wacana politis, ini sangatlah efektif sebagai pengokoh status quo. Agama menjadi alat justifikasi kepentingan pribadi dan kelompok. Sehingga dalam realitas kehidupan masyarakat perkotaan banyak terjadi fenomena kemunculan organisasi sekuler yang berlabel keagamaan.

    Mental disorder yang muncul pada jiwa masyarakat perkotaan tersebut banyak disebabkan karena belum mampunya mereka untuk menyingkronkan antara nilai-nilai baru yang dimunculkan oleh gejala modernisasi dan teknologisasi yang semakin semakin maju, dengan ajaran agama yang mereka anut. Disebabkan masih rendahnya daya serap mereka terhadap agama secara esensif yang bersifat religio-perennis. Akibatnya masyarakat perkotaan mengalami apa yang dinamakan hampa akan makna.

    Nilai “hampa makna” inilah yang membuat masyarakat perkotaan yang nota bene mewakili manusia modern cenderung untuk mencari apa saja yang dapat dijadikan sebagai way of life. Selain itu, karena gejolak individualitas tersebut ditunjang dengan kepuasan sesaat karena hasil-hasil pembangunan teknis, tanpa dukungan keseimbangan aspek spiritual. Maka terjadilah proses alienasi pada pribadi anggota masyarakat. ini terjadi karena manusia terlalu terlena oleh kanikmatan duniawi hasil modernitas yang mana hal itu akan menjadikan manusia sebagai budak modernitas. Dari sinilah kompleksitas gejala negatif kemanusiaan dimulai.

    Dengan perubahan sosial yang cepat dan komunikasi tanpa batas, dimana kehidupan cenderung berorientasi pada materirialistik, skolaristik, dan rasionalistik dengan kemajuan Iptek di segala bidang. Kondisi ini ternyata tidak selamanya memberikan kenyamanan, tetapi justru melahirkan abad kecemasan (the age of anxienty). Kemajuan ilmu dan teknologi hasil karya cipta manusia yang memberikan segala fasilitas kemudahan, ternyata juga memberikan dampak berbagai problema psikologis bagi manusia itu sendiri

    Secara kolektif manusia modern mengalami gejala keterasingan jiwa atau paling tidak keterbelahan jiwa (split personality). Keterbelahan jiwa ini telah mengerosikan sisi terdalam dari kemanusiaan, yakni batin, teknikalisasi industri telah memunculkan de-humanisasi secara akut, kolektif dan tiba-tiba.

    Masyarakat modern kini sangat mendewa-dewakan ilmu pengetahuan dan teknologi, sementara pemahaman keagamaan yang didasarkan pada wahyu sering di tinggalkan dan hidup dalam keadaan sekuler. Mereka cenderung mengejar kehidupan materi dan bergaya hidup hedonis dari pada memikirkan agama yang dianggap tidak memberikan peran apapun.

    Masyarakat demikian telah kehilangan visi ke-Ilahian yang tumpul penglihatannya terhadap realitas hidup dan kehidupan. Kemajuan-kemajuan yang terjadi telah merambah dalam berbagai aspek kehidupan, baik sosial, ekonomi budaya dan politik. Kondisi ini mengharuskan individu untuk beradaptasi terhadap perubahan-perubahan yang terjadi secara cepat dan pasti. Padahal dalam kenyataannya tidak semua individu mampu melakukannya sehingga yang terjadi justru masyarakat perkotaan atau manusia modernlah yang mempunyai banyak problem.

    Kehampaan makna yang terjadi pada masyarakat perkotaan tersebut membuat masyarakat berusaha mencari sebuah pelepas dahaga jiwa yang kering. Sehingga saat ini marak sekali terjadi gelombang spiritualitas masyarakat perkotaan. Mulai diadakannya majelis dzikir, pengajian akhbar, dan acara-acara yang berdimensi spriritualitas lainya. Maka manusia modern saat ini bisa dikatakan berusaha kembali kepada fitrahnya yakni visi ke-Ilahian yang mana akibat modernitas dengan topeng manisnya yang selama ini berusaha menjauhkan manusia dari visi ke-Ilahian.

    Spritualisme masyarakat modern muncul di dorong oleh modernisme itu sendiri di mana manusia modern merasakan bahwa harta tidak lagi dapat menjadi patokan pembawa kebahagiaan dan penyejuk hati sehingga masyarakat modern mengalami kefakuman eksistensial. Spiritualitas adalah bidang penghayatan batiniah kepada Tuhan melalui laku-laku tertentu yang sebenarnya terdapat pada setiap agama. Namun, tidak semua penganut agama menekuninya. Hal ini pada akhirnya mengantarkan masyarakat modern kembali kepada nilai-nilai religius. Masyarakat modern haus akan kegiatan-kegiatan dan orang-orang yang mampu memberikan kesejukan dan ketenangan jiwa bagi mereka.

    C. Fenomena Spiritualitas Masyarakat Perkotaan.

    Sebelum lebih jauh mengetahui fenomena spiritualitas masyarakat perkotaan ada baiknya terlebih dahulu jika mengetahui karakteristik dari masyarakat perkotaan dengan berbagai dimensi. selanjutnya masyarakat perkotaan sering disebut juga urban community, Pengertian masyarakat kota lebih ditekankan pada sifat-sifat kehidupanya serta ciri-ciri kehidupanya yang berbeda dengan masyarakat pedesaan. Ada beberapa ciri yamg menonjol pada masyarakat kota.yaitu:

    Kehidupan keagamaan berkurang bila dibandingkan dengan kehidupan keagamaan di desa.
    Orang kota pada umumnya dapat mengurus dirinya sendiri tanpa harus bergantung padaorang lain.
    Pembagian kerja diantara warga-warga kota juga lebih tegas dan mempunyai batas-batas yang nyata.
    Kemungkinan-kemungkinan untuk mendapatkan pekerjaan juga lebih banyak diperoleh warga kota daripada warga desa.
    Jalan pikiran rasional yang pada umumnya dianut masyarakat perkotaan, menyebabkan bahwa interaksi-interaksi yang terjadi lebih didasarkan pada faktor kepentingan daripada faktor umum.
    Perubahan-perubahan social tampak dengan nyata di kota-kota, sebab masyarakat kota biasanya lebih terbuka dalam menerima hal-hal baru.

    Terdapat perbedaan mendasar dari masyarakat perkotaan dengan pedesaan yang merupakan bisa dikatakan sebagai lawan katanya. Lingkungan hidup di pedesaan sangat jauh berbeda dengan diperkotaan. Lingkungan pedesaan terasa lebih dekat dengan alam bebas, udaranya bersih, sinar matahari cukup dan lain sebagainya. Sedangkan di lingkungan perkotaan yang sebagian besar dilapisi beton dan aspal, bangunan-bangunan menjulang tinggi dan pemukiman yang padat. Kegiatan utama penduduk desa berada di sector ekonomi primer yaitu bidang agraris (pertanian). Sementara orang perkotaan bekerja di bidang industrialisme.

    Corak kehidupan social di desa dapat dikatakan masih homogin (satu jenis), sebaliknya di kota sangat heterogin (beraneka ragam) karena disana saling bertemu berbagai suku bangsa, agama, kelompok dan masing-masing memiliki kepentingan yang berlainan.

    Di dalam masyarakat perkotaan umumnya didominasi oleh orang-orang urban. Mereka umumnya mengadu nasib diperkotaan dengan harapan dapat membuat masa depannya lebih cerah. Orang desa yang berpindah ke kota atau urbanisasi ini mengakibatkan sebuah pergeseran dimensi sosial pada dirinya. Bahkan dalam segi keberagamaannya pun juga terjadi sebuah perubahan sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya. Dari yang agamis hingga menjadi sekularis ketika mereka berada dikota namun budaya desa bisa dikatakan masih kuat tertanam dalam benak mereka. Oleh karenanya masyarakat perkotaan yang umumnya dari orang urban maka telah sewajarnya jika ia kembali kepada nilai-nilai keagamaannya sebagaimana mereka masih berada dipedasaanya dahulu.

    Dengan corak masyarakat perkotaan yang sedemikian rupa yang heterogen penduduknya baik secara sosial maupun kultural maka pada saat ini terjadi sebuah fenomena yang cukup menarik untuk diamati yakni terjadinya gelombang spiritualitas yang terjadi pada masyarakat perkotaan. Ini merupakan sebuah gerakan kembali kepada nilai-nilai visi ke-Ilahian yang mana telah lama tergerus oleh arus modernitas dan globalisasi.

    Salah satu fenomena spiritulaitas masyarakat perkotaan yakni ada dan berkembangnya majelis-majelis keagamaan, kursus-kursus tasawuf spiritual yang diselenggarakan oleh lembaga semacam Manajemen Qalbu oleh Aa Gym, Paramadina, Ad-Dzikra oleh Ust Arifin Ilham, ESQ oleh Ary Ginanjar dan lain-lain menarik minat yang cukup tinggi, terutama di kalangan kaum kota yang terdidik secara modern. Dan keberadaannya bukan sekadar ritual semata, namun kekuatan Spiritualitas juga mampu membangkitkan kesadaran dan nuansa pembebasan masyarakat muslim. Kecenderungan demam tasawuf di perkotaan kian menunjukkan peningkatan.

    Bahkan gelombang spiritualitas sekarang telah merambah pada universitas-universitas di kota-kota besar. Sebagai contohnya saja yakni jama’ah al-Khidmah kampus yang mana di eksponeni oleh mahasiswa dari kampus ITS, Unair, Unesa, dan Uinsa. Gelombang sepritualitas juga merambah para akademisi bukan hanya kepada masyarakat kota yang awam saja.

    Yang menarik adalah umumnya yang mengikuti majelis-majelis keagamaan tersebut jika dilhat dari strata ekonomi dari kelas menengah ke atas, kemudian mereka juga termasuk orang-orang yang tergolong intelektualitas. Namun meraka sangat mendominasi dalam acara-acara berbasis sepiritual tersebut. ini menunjukkan bahwa budaya modernisasi yang didengung-dengungkan membawa masalah krisis spiritual.

    Maka kehadiran tasawuf di dunia modern ini sangat diperlukan, guna membimbing manusia agar tetap merindukan Tuhannya, dan bisa juga untuk orang-orang yang semula hidupnya glamour dan suka hura-hura menjadi orang yang asketis (Zuhud pada dunia). Disamping itu juga, tasawuf modern juga sebagai terapi penyembuhan bagi kegundahan hati dalam merindukan Tuhannya.

    Tasawuf di era modern ini, ditempatkan sebagai cara pandang yang rasional sesuai dengan nalar normatif dan nalar humanis-sosiologis. Kepekaan sosial, lingkungan (alam) dan berbagai bidang kehidupan lainnya adalah bagian yang menjadi ukuran bahwa tasawuf di era modern itu tidak sekedar pemenuhan spiritual, akan tetapi lebih dari itu yaitu mampu membuahkan hasil bagi yang ada di bumi ini.

    D. Signifikansi Tasawuf Modern Terhadap Masyarakat Perkotaan

    Masyarakat perkotaan sering sekali diidentikan sebagai masyarakat modern. Memang tidak dipungkiri bahwa dalam kehidupan masyarakat perkotaan lebih modern daripada cara hidup orang pedesaan. Istilah “masyarakat modern” terdiri dari dua kata, yaitu masyarakat dan modern. Istilah masyarakat dalam bahasa Inggris disebut society yang asal katanya socius yang berarti kawan. Sedangkan dalam bahasa Arab dikenal dengan istilah syirk yang berarti bergaul. Dalam ilmu antropologi, masyarakat disefinisikan sebagai kesatuan adat istiadat tertentu yang bersifat kontinyu dan terikat oleh suatu rasa identitas bersama.[4] Adapun kata “modern” dalam Kamus Bahasa Indonesia diartikan dengan terkini, mutkhir, dan terbaru.

    Jadi berdasarkan berdasarkan dua pengertian diatas, maka masyarakat moedrn adalah sekelompok manusia yang hidup dalam kebersamaan yang saling mempengaruhi dan terikat dengan norma-norma serta sebagian besar anggotanya mempunyai oreintasi nilai budaya yang menuju kehidupan yang lebih maju. Bahkan jika merujuk pada pandangan Amin Syukur bahwa masyarakat modern adalah masyarakat the city, yaitu masyarakat yang telah menjadi sekuler.[5]

    Dalam aspek spiritual, masyarakat modern senantiasa terbuai dalam situasi keglamoran, medewakan ilmu pengetahuan dan teknologi yang menjadikan mereka meninggalkan pemahaman agama, hidup dalam sikap sekuler yang menghapus visi ke-Ilahian. Hilangnya visi ke-Ilahian tersebut menagkibatkan manusia jauh dengan sang pencipta-Nya, meninggalkan ajaran-ajaran yang dimuat dalam dogma agama. akibatnya , dalam kehidupan manusia modern sering dijumpai banyak orang yang stress, gelisah, tidak percaya diri.[6]

    Masyarakat modern ini identik dengan kemajuan dalam segala bidang, baik dalam berbagai aspek kehidupan manusia, baik sosial, ekonomi, budaya dan politik, mengharuskan individu untuk beradaptasi terhadap perubahan-perubahan yang terjadi secara cepat dan pasti. Padahal dalam kenyataannya tidak semua individu mampu melakukannya sehingga yang terjadi justru masyarakat atau manusia yang menyimpan banyak problem. Tidak semua orang, mampu beradaptasi, akibatnya adalah individu-individu yang menyimpan berbagai problem psikis dan fisik, dengan demikian dibutuhkan cara efektif untuk mengatasinya. Berbicara masalah solusi, kini muncul kecendrungan masyarakat untuk mengikuti kegiatan-kegiatan spiritual (tasawuf).

    Secara etimologi, tasawuf berasal dari bahasa Arab yaitu kata shuuf yang berarti bulu domba. Pada waktu itu para ahli tasawuf memakai pakaian dari bulu domba sebagai lambang merendahkan diri. Sedangkan secara terminology, para sufi dalam mendefinisikan tasawuf itu sendiri sesuai dengan pengalaman batin yang telah mereka rasakan masing-masing. Dan karena dominannya ungkapan batin ini, maka menjadi beragamnya definisi yang ada. Sehingga sulit mengemukakan definisi yang menyeluruh. Dari beberapa definisi para sufi, Noer Iskandar mendefinisikan bahwa tasawuf adalah kesadaran murni (fitrah) yang mengarahkan jiwa yang benar kepada amal dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah sedekat mungkin.

    Kehadiran tasawuf di dunia modern ini sangat diperlukan, guna membimbing manusia agar tetap merindukan Tuhannya, dan bisa juga untuk orang-orang yang semula hidupnya glamour dan suka hura-hura menjadi orang yang asketis (Zuhud pada dunia). Disamping itu juga, tasawuf modern juga sebagai terapi penyembuhan bagi kegundahan hati dalam merindukan Tuhannya.

    Bahkan menurut Said Aqil Sirajd dalam bukunya mengatakan bahwa tasawuf adalah “revolusi spiritual”. Tidak seperti dimensi keagamaan lainnya, tasawuf akan memperbaruhi dan menyamai kekosongan jiwa.[7] Kelimpahruahan materi yang mewarnai kehidupan dunia ini dianggap bukanlah sebagai sesuatu yang penting. Namun sebaliknya, kelimpahan hatilah yang menjadi penompanggnya. Sang pelaku tasawuf adalah seorang yang kaya hatinya, tapi tidakalah pasif dalam kenyataan hidup. Inilah gambaran tasawuf untuk masyarakat perkotaan.

    Tasawuf itu bukan barang mati. Sebab tasawuf itu merupakan produk sejarah yang seharusnya dikondisikan sesuai dengan tuntutan dan perubahan zaman. Penghayatan tasawuf bukan untuk diri sendiri, seperti yang kita temui di masa silam. Tasawuf di era modern adalah alternatif yang mempertemukan jurang kesenjangan antara dimensi ilahiyah dengan dimensi duniawi. Banyak orang yang secara normatif (kesalehan individu) telah menjalankan dengan sempurna, tetapi secara empiris (kesalehan sosial) kadang-kadang belum tanpak ada. Dengan demikian lahirnya tasawuf di era modern diharapkan menjadi tatanan kehidupan yang lebih baik. Tasawuf sebagai inti ajaran Islam muncul dengan memberi solusi dan terapi bagi problem manusia dengan cara mendekatkan diri kepada Allah yang Maha Pencipta. Selain itu berkembang pula kegiatan konseling yang memang bertujuan membantu seseorang menyelesaikan masalah. Karena semua masalah pasti ada penyelesaiannya serta segala penyakit pasti ada obatnya. Peluang tasawuf dalam menangani penyakit-penyakit psikologis atas segala problem manusia, semakin terbentang lebar di era modern ini.

    Ajaran tasawuf dengan berbagai metodenya tampaknya dapat memberikan sumbangan positif yang dapat diamalkan oleh masyarakat perkotaan sebagai solusi dalam menjalani kehidupan. Oleh karenanya, dalam mengatasi problematika masyarakat modern saat ini, tasawuf harus dijadikan sebagai alternatif terpenting. Ajaran tasawuf perlu diaplikasikan dalam seluruh aspek kehidupan manusia modern. Aspek ekonomi, aspek sosial, budaya, dan lain sebagainya.

    E. Kesimpulan

    Zaman modern dimulai sejak adanya krisis abad pertengahan (abad ke-14 dan ke-15), yang ditandai dengan munculnya gerakan Renaissance. Proses modernisasi, yang dijalankan oleh dunia Barat sejak zaman renaissance, disamping membawa dampak positif, juga telah menimbulkan dampak negatif. Dampak positifnya, modernisasi telah membawa kemudahan-kemudahan dalam kehidupan manusia dengan adanya teknologisasi, sementara dampak negatifnya ialah modernisasi telah menimbulkan krisis hidup , kehampaan spiritual, dan tersingkirnya atau bergesernya peranan agama dalam kehidupan manusia.

    Secara kolektif manusia modern mengalami gejala keterasingan jiwa atau paling tidak keterbelahan jiwa (split personality). Kehampaan makna yang terjadi pada masyarakat perkotaan tersebut membuat masyarakat berusaha mencari sebuah pelepas dahaga jiwa yang kering. Sehingga saat ini marak sekali terjadi gelombang spiritualitas masyarakat perkotaan. Mulai diadakannya majelis dzikir, pengajian akhbar, dan acara-acara yang berdimensi spriritualitas lainya. Maka manusia modern saat ini bisa dikatakan berusaha kembali kepada fitrahnya yakni visi ke-Ilahian yang mana akibat modernitas dengan topeng manisnya yang selama ini berusaha menjauhkan manusia dari visi ke-Ilahian.

    Spritualisme masyarakat modern muncul di dorong oleh modernisme itu sendiri di mana manusia modern merasakan bahwa harta tidak lagi dapat menjadi patokan pembawa kebahagiaan dan penyejuk hati sehingga masyarakat modern mengalami kefakuman eksistensial. Spiritualitas adalah bidang penghayatan batiniah kepada Tuhan melalui laku-laku tertentu yang sebenarnya terdapat pada setiap agama. Namun, tidak semua penganut agama menekuninya.

    Salah satu fenomena spiritulaitas masyarakat perkotaan yakni ada dan berkembangnya majelis-majelis keagamaan, kursus-kursus tasawuf spiritual yang diselenggarakan oleh lembaga semacam Manajemen Qalbu oleh Aa Gym, Paramadina, Ad-Dzikra oleh Ust Arifin Ilham, ESQ oleh Ary Ginanjar dan lain-lain menarik minat yang cukup tinggi, terutama di kalangan kaum kota yang terdidik secara modern. Dan keberadaannya bukan sekadar ritual semata, namun kekuatan Spiritualitas juga mampu membangkitkan kesadaran dan nuansa pembebasan masyarakat muslim. Kecenderungan demam tasawuf di perkotaan kian menunjukkan peningkatan.

    Maka kehadiran tasawuf di dunia modern ini sangat diperlukan, guna membimbing manusia agar tetap merindukan Tuhannya, dan bisa juga untuk orang-orang yang semula hidupnya glamour dan suka hura-hura menjadi orang yang asketis (Zuhud pada dunia). Disamping itu juga, tasawuf modern juga sebagai terapi penyembuhan bagi kegundahan hati dalam merindukan Tuhannya.

    Ajaran tasawuf dengan berbagai metodenya tampaknya dapat memberikan sumbangan positif yang dapat diamalkan oleh masyarakat perkotaan sebagai solusi dalam menjalani kehidupan. Oleh karenanya, dalam mengatasi problematika masyarakat modern saat ini, tasawuf harus dijadikan sebagai alternatif terpenting. Ajaran tasawuf perlu diaplikasikan dalam seluruh aspek kehidupan manusia modern. Aspek ekonomi, aspek sosial, budaya, dan lain sebagainya.

    Saran dan Kritik
    Saya menghimbau kepada teman-teman seperjuangan untuk mencari lebih luas lagi tentang gelombang spiritualitas masyarakat modern yang belum dapat saya bahas pada makalah ini. Demikian yang saya uraikan pada makalah ini, mudah-mudahan dapat memberi manfaat bagi saya dan yang mengkaji makalah ini. Dalam pembuatan makalah ini pasti banyak kekurangan, untuk itu kritik dan saran yang membangun sangat saya harapkan demi penyempurnaan pada penulisan karya ilmiah mendatang.

    Daftar Pustaka

    Achmadi, Asmoro. 2012. Filsafat Ilmu. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

    Ishomuddin. 2005. Sosiologi Prespektif Islam. Malang: UMM Press Malang

    Maksum, Ali. 2003. Tasawuf Sebagai Pembebas Manusia. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

    MKDU, Tim. 2011. Akhlak Tasawuf. Surabaya: IAIN SA Press.

    Sholikhin, Muhammad. 2013. Sufi Modern. Jakarta: PT Gramedia.

    Sirajd, Said Aqil. 2006. Tasawuf Sebagai Kritik Sosial. Bandung: Mizan.

    Syukur, Amin. 2002. Menggungat Tasawuf. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

    [1] Asmoro Achmadi, Filsafat Umum, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2012), 113.

    [2] Ali Maksum, Tasawuf Sebagi Pembebas Manusia Modern, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2003), 69.

    [3] Muhammad Sholikhin, Sufi Modern, (Jakarta: PT Gramedia, 2013), 167.

    [4] Ishomuddin, Sosiologi Prespektif Islam, (Malang: UMM Press Malang, 2005), 148.

    [5] Amin Syukur, Menggugat Tasawuf, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar 2002), 112.

    [6] Tim MKDU, Akhlak Tasawuf, (Surabaya: IAIN SA Press, 2011), 355.

    [7] Said Aqil Sirajd, Tasawuf Sebagai Kritik Sosial, (Bandung: Mizan, 2006), 46.

    Subscribe

    Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

    No Responses

    Leave a Reply