Saturday 23rd March 2019
    banner 728x90

    Abang Bulganon, Pengayom dan Umat Biasa

    By: On:

    Oleh : Jiffy Ngawiat Prananto

    Pada sekitar pertengahan tahun 2002, saya diperintahkan bos saya waktu itu (sebut saja : Pak Adi, beliau ini seorang tokoh nasional, mantan anggota legislatif dan juga mantan pimpinan suatu lembaga tinggi negara) untuk ikut serta dalam perkara yang sekarang dikenal sebagai perkara Teroris. Perkara Teroris ini bisa jadi adalah kasus Teroris yang pertama kali ada di Indonesia, terutama pasca reformasi. Dan seingat saya, Pak Adi adalah salah satu penggagas awal adanya Tim Pengacara Muslim. Tak berapa lama kemudian di kantor kami kedatangan seorang anggota Tim untuk kasus tersebut, yang kemudian saya kenal sebagai Bang Hidayat Surya Saleh (“Bang Dayat”). Saat kami berkenalan, Bang Dayat mengeluarkan kartu namanya yang di dalamnya tertera sebagai pengacara di “LBH-Yaskum”. Begitu saya lihat kartu nama tersebut, saya bertanya ke Bang Dayat,”Bang, berarti Bang Dayat ikut dengan Abang (Bang Ibul).” Saya ceritakan pula bahwa saya ini juga sudah dituntun dan ikut dengan pengayom saya Bapak Supardi di Tangerang yang menginduk kepada Bang Mamat Almarhum. Mendengar keterangan saya itu, Bang Dayat terlihat senang sekali dan mengajak saya untuk bisa mampir di Kembangan sekaligus berkenalan dengan Abang. “Siap bang!”, sahut saya.

    Sekitar seminggu atau dua minggu kemudian, klien kami yang tersangkut perkara teroris tersebut, mendapat panggilan di Mabes Polri. Mendapat info adanya panggilan tersebut, saya dan Bang Dayat berkoordinasi untuk bertemu di Mabes Polri.

    Tiba hari tersebut, saya menuju ke Mabes Polri dan di teras kantor Bareskrim, Bang Dayat sudah menunggu saya. Kemudian kita masuk bersama-sama dan terlebih dahulu masuk ke ruang tunggu dan disitu hanya ada seorang terlihat sebagai pengacara muda yang juga sedang duduk menunggu. Bang Dayat ternyata kenal dengan pengacara muda tersebut kemudian mengenalkan saya kepadanya. “Ini Jiffy, dari kantornya Pak Adi, dia juga sudah dituntun, dia orang kita juga.” Lalu kami bersalaman, disitu saya baru tahu bahwa pengacara muda ini bernama Dahmar (saat ini menjabat sebagai Ketua Harian Yaskum Indonesia), dan ternyata juga pengacaranya Abang di LBH Yaskum. Setelah itu kami, Bang Dayat dan saya naik ke ruang penyidik sedangkan Dahmar ada urusan perkara yang lain. Belakangan saya baru mengetahui bahwa yang memberitahu langsung mengenai saya kepada Abang adalah Dahmar sendiri.

    Waktu demi waktu berjalan, saya dengan Bang Dayat beberapa kali bertemu di Mabes Polri untuk urusan yang sama. Saat itu terasa sangat padat sekali jadwal saya hingga hampir lupa untuk bisa mampir ke Kembangan.

    Pada tanggal 16 malam 17 Nopember 2002, pada malam hari sekitar pukul 9, Pengayom saya mendatangi rumah saya dan mengatakan ditunggu Bang Mamat, Pengayom Induk kami. Setelah bersalaman, Bang Mamat menyampaikan maksud dan tujuan beliau datang ke rumah pengayom saya. Beliau intinya menyampaikan permohonan kepada pengayom saya untuk bisa mengajak saya bertemu Abang karena sudah ditunggu di Kembangan. Menjawab ajakan tersebut, Pengayom saya menyampaikan kepada Bang Mamat bahwa itu tergantung kepada pribadi Jiffy. Lalu pengayom saya berkata: “itu tergantung Jiffy sendiri, bagaimana Jif? “ “Amin Yom!”, begitu jawaban saya waktu itu. Setelah pamit dengan pengayom saya, bersama-sama kami, Bang Mamat Almarhum dengan saya, berangkat ke Kembangan dengan mobilnya Bang Mamat waktu itu.

    Setiba di Kembangan, Bang Mamat membawa saya bertemu dengan Abang yang waktu itu duduk di kursi Payung. Sayapun menyalami Abang, setelah itu Bang Mamat meninggalkan kami. Pertemuan saat itu merupakan pertemuan pertama kali saya dengan Abang dalam arti bisa bertatap muka langsung dengan Abang karena sebelumnya saya hanya bisa melihat Abang dari kejauhan, itupun hanya saat acara besar seperti Peringatan Maulid Nabi dlsb. Tidak berapa lama, istri Abang juga ikut duduk menemani Abang. Sulit sekali menggambarkan keadaan saya saat itu, ummat biasa dan ummat kebanyakan, yang bisa bertatap muka langsung dengan Abang. Bagi kami ummat kebanyakan saat itu, momen seperti itu adalah momen yang sangat langka dan bisa dikatakan agak mustahil. Tidak mengherankan, perasaan dan fikiran saya sangat canggung dan kaku sekali, apalagi pengayom induk saya Bang Mamat sudah tidak ada disitu. Sosok Abang ketika itu sangat berwibawa dan entah bagaimana saya seperti melihat raut muka Abang sangat cerah dan bercahaya. Dengan lembut Abang memulai pembicaraan;
    “Jadi Jiffy lawyer di kantornya Pak Adi?”

    “Ya bang.”

    “Sejak kapan?”

    “Dari sejak pertama kali diangkat pengacara bang, dari bulan Maret 2000.”

    “Ooo, begitu.”
    “Terus pak Supardi itu memang mertua Jiffy?”

    “Iya bang.”

    Kemudian Abang mulai bercerita tentang keberadaan LBH Yaskum dengan pengacara-pengacaranya. Sambil Abang bercerita, saya hanya menyampaikan bahwa sempat bertemu dan berkenalan dengan Bang Dayat dan selanjutnya berkenalan dengan Dahmar di Mabes Polri. Abang memberi gambaran umum tentang kondisi, situasi dan keadaan umum dari kehidupan dan praktek para pengacara di LBH Yaskum sekaligus bagaimana tanggungjawab Abang kepada para pengacara. Sambil mendengar penuturan Abang, situasi grogi dan kikuk susah sekali saya lawan. Bahkan saya sempat jatuh dari kursi saya ketika itu. Setelah bertutur kata dan bertegur sapa kurang lebih 1 (satu) jam. Abangpun mempersilahkan saya apabila ada urusan lain bisa pulang ke rumah. Sambil menutup kata, “Lain kali bila ada waktu mampir ke kembangan, salam ya buat Bapak (maksud Abang ke pengayom saya).”

    “Amin Bang,” sahut saya, dan sayapun pamit dan bersalaman dengan Abang.

    Begitulah pertemuan saya pertama kali dengan Abang, seingat saya tidak ada satupun kalimat dari Abang untuk mengajak saya bergabung dengan pengacara-pengacara Abang di LBH Yaskum.

    Itulah momen perjumpaan saya, seorang ummat biasa..ummat kebanyakan, yang mendapatkan kesempatan bertemu dengan Abang untuk pertama kalinya hingga saya datang kembali ke Kembangan di Bulan Juli 2003 setelah saya mengundurkan diri dari kantor tempat saya bekerja sebelumnya.

    Dahulu kisah ini saya pandang hanya sejarah saya pribadi saja, tidak penting saya ceritakan. Belakangan baru saya sadar bahwa itu ternyata satu peragaan nyata tentang bagaimana adab, etika dan perbuatan dari Abang dengan pengayom-pengayomnya juga ummatnya, di lain pihak suatu pesan moral kepada diri saya sendiri. Dalam kisah saya ini, tidak sulit bagi Abang memanggil saya langsung, toh nomor telpon saya sudah dipegang oleh 2 (dua) pengacara Abang, Bang Dayat dengan Dahmar. Untuk apa Abang capek-capek memanggil saya melalui Bang Mamat (pengayom Induk) saya dan Pengayom saya sendiri. Apalagi beliau-beliau itu bukanlah pengayom-pengayom yang tidak kenal langsung dengan Abang. Bahkan Bang Mamat Almarhum sudah puluhan tahun mendampingi Abang bahkan dalam kesehariannya. Tidak akan mungkin beliau-beliau ini menjadi kesal atau keberatan atas permintaan Abang, apapun alasannya. Faktanya, Abang memanggil saya melalui jenjang kepengayoman, dari mulai Abang ke Induk, dari Induk ke Pengayom saya , itupun masih ditawarkan lagi kepada saya apakah saya bersedia untuk datang ke Kembangan.

    Ini kejadian sekitar 15 tahun yang lalu, saya kurang begitu mengerti apakah etika dan adab ini masih perlu kita pertahankan dan junjung tinggi sampai saat ini. Akan tetapi bahwa di dalam pergaulan umumpun, ketika kita dikenalkan oleh seseorang kepada orang lain (sebut saja pihak kedua) maka saat pihak kedua akan memanggil atau bertemu dengan kita, secara etika, pihak kedua tersebut sepatutnya memberitahukan kepada pihak yang pertama mengenalkannya kepada kita.

    Abang yang saya kenal, sangat menjaga adab dan etika pergaulan, baik dengan sesama beliau, bawahannya, pejabat-pejabat terlebih lagi kepada orang yang lebih tua atau dituakan.

    Walaupun demikian, tetap ada ruang dalam konteks kekinian dengan segala perubahannya yang juga tidak bisa kita abaikan sehingga mungkin diperlukan satu penyesuaian-penyesuaian demi mengikuti perubahan atau perkembangan jaman termasuk pula ilmu dan pengetahuan.

    Setidak-tidaknya, apapun tafsir dan pemahaman kita semua mengenai hal ini, mudah-mudahan ada kecocokan dan bisa dijadikan bahan pelajaran.

    Terakhir, saya ingin menutup kisah ini bahwa belajar tentang Sang Ruhi dan kecerdasan spiritualnya, tetap harus berlandaskan realita dan praktek. Sang Ruhi tidak membimbing dan menuntun kita dalam ruang hampa melainkan melalui interaksi antar individu terlebih lagi melalui guru-guru pemimbing yang memang mempunyai tugas untuk membimbing para binaan atau ummatnya. Terutama tentu Mursyid Utama kita Abang Bulganon.

    Allahu Akbar !!!

    Kembangan, 18 Januari 2019

     

    Subscribe

    Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

    No Responses

    Leave a Reply